Senin, 10 September 2018
Ibu, Aku Tahu Bagaimana Sakitnya Hatimu
Sungguh, sakit sekali rasanya ketika mendengar curhatan ibuku. Aku tahu bagaimana terluka hatinya saat mendapat perlakuan seperti itu dari teman hidupnya sendiri. Allah, sungguh sakiit. Cukup ya Allah, cukup diriku saja yang merasakan kesakitan itu. Jangan ibuku. Sungguh telah banyak kesusahan-kesusahan yang telah dilewatinya. Biarkanlah sekarang ia menikmati keindahan-keindahan saja.
Selasa, 10 Juli 2018
Rumahku tak sehangat dulu
Rumahku tak sehangat dulu. Makin lama aku makin merasakan
kedinginan di rumah ini. Tak ada cerita, tak ada canda tawa, tak ada kumpul
bersama. Semuanya diam, diam membisu. Ego dengan perasaan masing-masing, tanpa
peduli perasaan satu sama lain. Aku ingin pergi, pergi dari sini. Pergi
sehingga aku tidak perlu merasakan kepedihan seperti ini lagi. Allah, betapa
pedihnya hidup yang kau takdirkan untukku. Bukan, bukan maksudku untuk tidak
bersyukur. Aku penuh tanya, akankah seperti ini terus hidupku?
Rabu, 27 Juni 2018
Inginku kita punya jalan yang sama
Kau tau? Bagaimana rasanya ketika kamu dan keluargamu mempunyai prinsip yang berbeda? Aku ingin terus berada di jalan yang ini, jalan yang mudah-mudahan Engkau ridhoi. Tapi bagaimana, ternyata keluargaku belum bisa ku sentuh. Kau tahu bagaimana rasanya berdiri sendiri mempertahankan apa yang sudah ku yakini? Aku tak cukup pandai untuk meyakinkan mereka, ditambah aku tak punya apa-apa yang menjadi perhiasan dunia yang masih menjadi standar kesuksesan mereka. Pekerjaan, paras yang cantik, jabatan, pasangan hidup, rumah mewah, kendaraan mewah, tidak, aku tak punya semuanya. Sungguh aku bingung bagaimana seharusnya?
Langganan:
Komentar (Atom)